Sabtu, 2
juni 2013
Tak terasa dua minggu
berlalu, hari – hari di panti yang penuh tawa dan canda pagi ini seolah berubah
suram. Cuaca mendung mengisyaratkan perasaan hati kami yang berat berpisah
dengan para lansia. Pukul 08.00 saya tiba di panti, dengan teman saya si Evi.
Mahasiswa yang lain sibuk menyiapkan kursi, menyiapkan DVD, sound system yang
lain. Saya dan beberapa teman lain memasuki kamar anggrek dan mawar, terlihat
beberapa lansia berdandan, ganti baju untuk pelepasan kami pagi itu. Setelah
beberapa lansia berkumpul, Tika sebagai MC/perwakilan dari kami mengungkapkan
rasa terima kasih atas kebaikan dan permintaan maaf atas kesalahan, kelalaian,
candaan kami yang menyinggung beliau sekalian. Tak ketinggalan juga perwakilan
dari nenek – nenek. Diawal acara Tika menawarkan kepada kami semua untuk
menyanyikan lagu pelepasan, sebagai kenang – kenangan. Mic diletakkan dihadapanku, dengan setengah keyakinan ku raih dan
saya berbisik “aku nyanyi gimana?”, “yahh gapapa srey boleh” temanku
meyakinkan.
Tanganku bergetar
memegang badan Mic, takut bila tiba –
tiba suaraku berubah atau menghilang tapi perlahan saya menyanyii dengan
iringan musik tepuk tangan berirama
Hanya
satu pintaku... tuk memandang langit biru
Dalam
dekap seorang ibu..
Hanya
satu pintaku... tuk bercanda dan tertawa
Dipangkuan
seorang ayah
Apabila ini, hanya sebuah mimpi
Ku selalu berharap dan tak pernah
terbangun...
Hanya
satu pintaku.. tuk memandang langit biru
Dalam
dekap ayah dan ibu...
Bibirku bergetar, mataku
berkaca, sesak rasanya dadaku melihat seorang nenek dihadapanku menangis. Seusai
lagu yang saya bawakan, teman – teman saya yang lain menyanyikan lagu dangdut
berharap agar suasana tidak begitu menyedihkan.
Sebagai tanda mata yang
lain, kami membelikan tempat sampah dan memberikannya kepada nenek satu
persatu, mengajarkan agar tidak menaruh sampah sembarang. Tengah hari kami
berpamitan dan mencium tangan mereka satu persatu, mencium pipi Ya Allah
rasanya berat sekali berpisah. Nenek – nenek mulai menangis, sembari mencium
pipi kami dan memeluk kami, meninggalkan pesan ditelinga “nek ono wektu simbahe
dijenguk yo nak? (kalo ada waktu nenek dijenguk ya nak)”. Tuhan bahagianya kami
mengenal mereka yang kami anggap seperti orang tua. Kulihat teman – temanku
memerah dan sembab mukanya, hanya saya yang masih bertahan tanpa air mata
setitik pun menetes. Entah rasanya sulit sekali keluar, meskipun hati terasa
sesak melihat keadaan itu. Mereka memiliki alasan agar kami dapat
mengunjunginya suatu hari nanti. Saya dan teman – teman sering berkata dan
saling mengingatkan satu sama lain, “jika nanti orang tua sudah menua, kita
harus sabar mengasuhnya selayaknya mereka mengasuh kita”.
Penghuni yang kami kenal
di Panti Wredha ini banyak sekali yang senang tinggal disana. Bermacam – macam alasan
yang mereka ungkapkan, ada yang karena anak sibuk, anaknya galak, tidak punya
suami, tidak punya keluarga dLL. Menyenangkan memang mengenal mereka,
menyenangkan sekali. Pesan mereka, nasihat yang mungkin tidak akan kami
dapatkan ditempat lain merupakan kenangan yang manis. Ada satu hal yang membuat
saya salut, mereka memiliki jiwa kekeluargaan yang tinggi, saling membantu satu
sama lain walaupun mereka mungkin pernah saling berselisih tetapi dengan gaya
dan mimik mereka itu sering membuat saya tertawa sendiri. Orang tua yang menua
adalah gambaran kita yang pernah lahir dan belajar menjadi muda. J J J J
ini sedang lomba makan pisang dalam rangka HUT Lansia
yang berkerudung itu mbah sri, sebelahnya mbok tatik. mereka minta difotoin berdua
perhatikan mimik muka mbah sri.. itu yang membuat aku kadang tertawa... :) :)
terima kasih eyang - eyang ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar