Hargailah dia yang mencintaimu..
Ia berkorban bukan karena berharap kasihmu.. Melainkan ingin menunjukkan kau berarti untuknya..

Pengikut

Selamat Datang di Blog Asrey Fatmalasari Putri

Selasa, 25 Juni 2013

Last Day at Panti Wredha Harapan Ibu







Sabtu, 2 juni 2013


Tak terasa dua minggu berlalu, hari – hari di panti yang penuh tawa dan canda pagi ini seolah berubah suram. Cuaca mendung mengisyaratkan perasaan hati kami yang berat berpisah dengan para lansia. Pukul 08.00 saya tiba di panti, dengan teman saya si Evi. Mahasiswa yang lain sibuk menyiapkan kursi, menyiapkan DVD, sound system yang lain. Saya dan beberapa teman lain memasuki kamar anggrek dan mawar, terlihat beberapa lansia berdandan, ganti baju untuk pelepasan kami pagi itu. Setelah beberapa lansia berkumpul, Tika sebagai MC/perwakilan dari kami mengungkapkan rasa terima kasih atas kebaikan dan permintaan maaf atas kesalahan, kelalaian, candaan kami yang menyinggung beliau sekalian. Tak ketinggalan juga perwakilan dari nenek – nenek. Diawal acara Tika menawarkan kepada kami semua untuk menyanyikan lagu pelepasan, sebagai kenang – kenangan. Mic diletakkan dihadapanku, dengan setengah keyakinan ku raih dan saya berbisik “aku nyanyi gimana?”, “yahh gapapa srey boleh” temanku meyakinkan.

Tanganku bergetar memegang badan Mic, takut bila tiba – tiba suaraku berubah atau menghilang tapi perlahan saya menyanyii dengan iringan musik tepuk tangan berirama


Hanya satu pintaku... tuk memandang langit biru
Dalam dekap seorang ibu..
Hanya satu pintaku... tuk bercanda dan tertawa
Dipangkuan seorang ayah
            Apabila ini, hanya sebuah mimpi
            Ku selalu berharap dan tak pernah terbangun...
Hanya satu pintaku.. tuk memandang langit biru
Dalam dekap ayah dan ibu...


Bibirku bergetar, mataku berkaca, sesak rasanya dadaku melihat seorang nenek dihadapanku menangis. Seusai lagu yang saya bawakan, teman – teman saya yang lain menyanyikan lagu dangdut berharap agar suasana tidak begitu menyedihkan.

Sebagai tanda mata yang lain, kami membelikan tempat sampah dan memberikannya kepada nenek satu persatu, mengajarkan agar tidak menaruh sampah sembarang. Tengah hari kami berpamitan dan mencium tangan mereka satu persatu, mencium pipi Ya Allah rasanya berat sekali berpisah. Nenek – nenek mulai menangis, sembari mencium pipi kami dan memeluk kami, meninggalkan pesan ditelinga “nek ono wektu simbahe dijenguk yo nak? (kalo ada waktu nenek dijenguk ya nak)”. Tuhan bahagianya kami mengenal mereka yang kami anggap seperti orang tua. Kulihat teman – temanku memerah dan sembab mukanya, hanya saya yang masih bertahan tanpa air mata setitik pun menetes. Entah rasanya sulit sekali keluar, meskipun hati terasa sesak melihat keadaan itu. Mereka memiliki alasan agar kami dapat mengunjunginya suatu hari nanti. Saya dan teman – teman sering berkata dan saling mengingatkan satu sama lain, “jika nanti orang tua sudah menua, kita harus sabar mengasuhnya selayaknya mereka mengasuh kita”.

Penghuni yang kami kenal di Panti Wredha ini banyak sekali yang senang tinggal disana. Bermacam – macam alasan yang mereka ungkapkan, ada yang karena anak sibuk, anaknya galak, tidak punya suami, tidak punya keluarga dLL. Menyenangkan memang mengenal mereka, menyenangkan sekali. Pesan mereka, nasihat yang mungkin tidak akan kami dapatkan ditempat lain merupakan kenangan yang manis. Ada satu hal yang membuat saya salut, mereka memiliki jiwa kekeluargaan yang tinggi, saling membantu satu sama lain walaupun mereka mungkin pernah saling berselisih tetapi dengan gaya dan mimik mereka itu sering membuat saya tertawa sendiri. Orang tua yang menua adalah gambaran kita yang pernah lahir dan belajar menjadi muda. J J J J




ini kami sedang senam di panti wredha bersama nenek


ini sedang lomba makan pisang dalam rangka HUT Lansia



yang berkerudung itu mbah sri, sebelahnya mbok tatik. mereka minta difotoin berdua


perhatikan mimik muka mbah sri.. itu yang membuat aku kadang tertawa... :) :)


terima kasih eyang - eyang ....


























Tidak ada komentar:

Posting Komentar