Hargailah dia yang mencintaimu..
Ia berkorban bukan karena berharap kasihmu.. Melainkan ingin menunjukkan kau berarti untuknya..

Pengikut

Selamat Datang di Blog Asrey Fatmalasari Putri

Selasa, 25 Juni 2013

Kamu pernah jadi Luvtia









“Bu, beli korek sama rokok nya ya!!”, (merogoh uang di saku)

“Mas didi sekarang agak kurusan? Kurang makan ya?”

“ah engga bu, memang lagi ngecilin badan aja mah”, sambil memberikan beberapa lembar uang seribuan aku bergegas pergi.


Sebelum masuk kamar mandi, aku berdiri di depan kaca. Diam, perlahan – lahan kuperhatikan sosok dibalik kaca “ah bener, aku agak kurusan.. malah mirip penyakit busung lapar (perut doang yang gedhe)”. Lalu aku mandi, keramas kurasakan segarnya memakai shampo rasa mint, segarrrr kugoyang - goyangkan seluruh badanku layaknya sedang casting iklan. Seusai mandi aku mengambil air wudhu, berdoa sama Yang Maha Kuasa semoga hari – hariku selalu dilancarkan dan dimudahkan termasuk dalam hal mencari jodoh. Kurebahkan diriku dipembaringan sudut kamar, bersandarkan tembok aku kembali membayangkan betapa pahitnya hidup yang aku jalani. Aku harus semangat, adekku masih kecil – kecil kalau sampai aku salah jalan mereka pasti akan depresi dan nyanyi lagunya Last Child. Jari jemariku disibukkan dengan game AngryBird di hape.


“Dini... diniiiiii” samar terdengar namun aku mengerti siapa yang memanggilku. “Luvti ada apa gerangan?”, dengan genggaman yang erat Luvti memandangku penuh harap dan kami berpelukan. Pundakku basah kuyup mendapat hujan air mata Luvti, ku belai kepalanya dengan sabar ku tuntun dia di bangku bawah pohon depan kosku. “berceritalah”, kulihat dia masih terisak – isak, mata Luvti sembab. “dinii, istriku.. istrikuuu mau menceraikanku jika aku masih menghubungimu”, Luvti kembali memelukku erat. Ya Tuhan, cobaan apalagi ini, kenapa tiada henti menghampiriku? Aku menjadi penyebab pertengkaran mereka,, Ya Tuhan maaf. “Luvti, aku mengerti wanita manapun tidak ada yang mau diduakan, termasuk aku percayalah.. aku mengalah”, hatiku sakit, rasanya berdusta sekali kalimat itu keluar dari mulutku. Aku memperhatikan garis muka Luvti berubah menjadi cerah, seakan dia begitu bahagia mendengar jawabanku tetapi dipihakku?? Aku terluka, sangattt..


Akhirnya sejenak kami berdua melupakan kejadian ini, kami bercakap – cakap hingga lupa waktu. Oh ya aku mau menghubungi emak di kampung, tetapi hape ku low bath akhirnya aku meminjam hape Luvti. “What??? Luvtiii foto siapa ini Luvti? Kamu selingkuh?”, aku garang dibuatnya setelah melihat foto wallpaper yang tak asing. “Siapa dia Luvti? Kenapa kamu diam?”. Aku menghujani Luvti berbagai pertanyaan, namun dia tetap diam. Hatiku bertambah hancur.. Tuhan cobaan apalagi ini?? Aku berlari masuk ke dalam kamar, disusul dengan Luvti yang mengekorku. Luvti mencoba menjelaskan siapa gadis yang dipasang menjadi wallpaper di hapenya, tapi aku tetap tidak mau tahu hatiku benar – benar hancur.


“dini.. kamu tidak akan pernah percaya, maaf aku membohongimu selama ini”, air mata kembali membahasahi pipinya. Aku jadi bertambah curiga Luvti menjadi gampang menangis.

“sudahlah apa gunanya sebuah hubungan bila tidak ada kejujuran”.

“dia itu...”

“SIAPAAAAAAAA????”, dengan penuh emosi aku menjambak rambut Luvti dan aku putar kekanan ke kiri layaknya bermain holahop.


“ini fotoku yang dulu,, aku Luvtia”

#mendadak hening dan pingsan




          Gelagapan mencari hape digenggaman, hufttt masih jam 23.00 malam ternyata, keringat bercucuran membasahi dahiku, jantungku berdebar cepat. Hah?? Barusan aku kenapa ya??, aku bermimpi????? huuuuuaaaaaaaaaahhhhhhh Untuk buang sial aku segera mengambil wudhu dan sholat sunah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar