“Bu, beli korek sama rokok nya ya!!”, (merogoh uang di saku)
“Mas didi sekarang agak kurusan? Kurang makan ya?”
“ah engga bu, memang lagi ngecilin badan aja mah”, sambil
memberikan beberapa lembar uang seribuan aku bergegas pergi.
Sebelum
masuk kamar mandi, aku berdiri di depan kaca. Diam, perlahan – lahan
kuperhatikan sosok dibalik kaca “ah bener, aku agak kurusan.. malah mirip
penyakit busung lapar (perut doang yang gedhe)”. Lalu aku mandi, keramas
kurasakan segarnya memakai shampo rasa mint, segarrrr kugoyang - goyangkan
seluruh badanku layaknya sedang casting iklan. Seusai mandi aku mengambil air
wudhu, berdoa sama Yang Maha Kuasa semoga hari – hariku selalu dilancarkan dan
dimudahkan termasuk dalam hal mencari jodoh. Kurebahkan diriku dipembaringan
sudut kamar, bersandarkan tembok aku kembali membayangkan betapa pahitnya hidup
yang aku jalani. Aku harus semangat, adekku masih kecil – kecil kalau sampai
aku salah jalan mereka pasti akan depresi dan nyanyi lagunya Last Child. Jari
jemariku disibukkan dengan game AngryBird di hape.
“Dini...
diniiiiii” samar terdengar namun aku mengerti siapa yang memanggilku. “Luvti
ada apa gerangan?”, dengan genggaman yang erat Luvti memandangku penuh harap
dan kami berpelukan. Pundakku basah kuyup mendapat hujan air mata Luvti, ku
belai kepalanya dengan sabar ku tuntun dia di bangku bawah pohon depan kosku.
“berceritalah”, kulihat dia masih terisak – isak, mata Luvti sembab. “dinii,
istriku.. istrikuuu mau menceraikanku jika aku masih menghubungimu”, Luvti
kembali memelukku erat. Ya Tuhan, cobaan apalagi ini, kenapa tiada henti
menghampiriku? Aku menjadi penyebab pertengkaran mereka,, Ya Tuhan maaf.
“Luvti, aku mengerti wanita manapun tidak ada yang mau diduakan, termasuk aku
percayalah.. aku mengalah”, hatiku sakit, rasanya berdusta sekali kalimat itu
keluar dari mulutku. Aku memperhatikan garis muka Luvti berubah menjadi cerah,
seakan dia begitu bahagia mendengar jawabanku tetapi dipihakku?? Aku terluka,
sangattt..
Akhirnya
sejenak kami berdua melupakan kejadian ini, kami bercakap – cakap hingga lupa
waktu. Oh ya aku mau menghubungi emak di kampung, tetapi hape ku low bath
akhirnya aku meminjam hape Luvti. “What??? Luvtiii foto siapa ini Luvti? Kamu
selingkuh?”, aku garang dibuatnya setelah melihat foto wallpaper yang tak
asing. “Siapa dia Luvti? Kenapa kamu diam?”. Aku menghujani Luvti berbagai
pertanyaan, namun dia tetap diam. Hatiku bertambah hancur.. Tuhan cobaan
apalagi ini?? Aku berlari masuk ke dalam kamar, disusul dengan Luvti yang
mengekorku. Luvti mencoba menjelaskan siapa gadis yang dipasang menjadi
wallpaper di hapenya, tapi aku tetap tidak mau tahu hatiku benar – benar
hancur.
“dini.. kamu tidak akan pernah
percaya, maaf aku membohongimu selama ini”, air mata kembali membahasahi
pipinya. Aku jadi bertambah curiga Luvti menjadi gampang menangis.
“sudahlah apa gunanya sebuah
hubungan bila tidak ada kejujuran”.
“dia itu...”
“SIAPAAAAAAAA????”, dengan penuh
emosi aku menjambak rambut Luvti dan aku putar kekanan ke kiri layaknya bermain
holahop.
“ini fotoku yang dulu,, aku
Luvtia”
#mendadak hening dan pingsan
Gelagapan
mencari hape digenggaman, hufttt masih jam 23.00 malam ternyata, keringat
bercucuran membasahi dahiku, jantungku berdebar cepat. Hah?? Barusan aku kenapa ya??, aku bermimpi?????
huuuuuaaaaaaaaaahhhhhhh Untuk buang sial aku segera mengambil wudhu dan sholat
sunah.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar