Hargailah dia yang mencintaimu..
Ia berkorban bukan karena berharap kasihmu.. Melainkan ingin menunjukkan kau berarti untuknya..

Pengikut

Selamat Datang di Blog Asrey Fatmalasari Putri

Jumat, 21 Juni 2013

Akibat Over PEDE

FRIENDSHIP











Kejadian ini bermula pada hobby yang terpendam antar jenis kami. Pada tahun ini, dibulan november dimana buah mangga mulai berjaya saling memamerkan keunggulannya, hal tersebut membuat kami tertarik untuk mencoba memanen sendiri. Entah nasib apes ato keberuntungan yang meleset, pohon mangga di samping rumah Ibu kost berbuah banyak sekali pada tahun ini. Sepulang dari sekolah, kami ber-tujuh (Seven Ikans) makan bersama tapi bayar sendiri-sendiri. Selasa sore ini kebetulan tidak ada jadwal olahraga dan ekstrakulikuler, akhirnya kami sepakat untuk tetap stay di kost sambil nge-“GOSIP”. Lima ekor berkumpul di ruang tengah, aku duduk di kursi bak permaisuri , satu ekor di tangga, dua ekor berceceran di lantai. Entah apa yang kami bahas sampai mulut berbusa, “ngalor-ngidul” (gak jelas), setelah sekian lama ngeluarin busa, kami baru sadar ada dua makhluk tak hadir dalam konferensi ini.. ahhaaa !! ah biasa, dia pasti lagi mengembara nyari asal mula terjadinya danau toba, ato mungkin lagi nyari tau kembaran yang terpisah.. EGP


Ditengah obrolan yang tak bertopik ini kami dikejutkan oleh teriakan Tini, “Eh pelem ki ono pelem” grubyuuukkk, langsung bergerombol sambil saling melototin tuh pelem (mangga) yang ranum. Apa?? Ranum?? Masih ijo iyaaa.. mangga habis dan kami masih kelaperan, mengeong..meong meong lalu kami nyamperin Ibu kost, “Ibu, minta mangga boleh ya?”, kata Dwi


“Yahh sana, ambil saja (logat batak)”

“Bu, tapi kalo ketauan senior gimana?? Nanti dihukum”

“Pake itu saja (sambil nunjuk bambu panjang), ato suruh ngambilin seniormu tuh ada di depan kost”

Tikitikitikitikitik.. kami mengahmpiri mas Anam, “mas, jipukake pelem lah, lutunggg lutungg lutungg tuluuuunggggggg”

Dengan Pe De nya mas anam menyuruh kami “wes, munggah wae (manjat) rak opo-opo, tak awasi nek kene”

Lalu kami bagi personil, dua orang manjat, dua orang mengawasi dari bawah, sisanya yang mengumpulkan mangga yang dijatuhkan. Asiiikk sekali rasanya, sudah lama tidak memanjat pohon, tetapi tugas ku bukan manjat, aku cuma mengawasi dan menghitung jumlah mangga yang dipanen..takut diambil!! Tugas manjat diserah terimakan sama cewek (dari luar) tapi dalamnya masih diragukan. Dia bisa banget manjat sampai ujung pohon, di bawahnya ada sikecil heni yang gak kalah gak pentingnya, si heni ini manjat buat ngapain coba? Ngambil mangga engga, makan daun juga engga, ya udah dia nangkring aja gitu, tangan garuk-garuk ke dengkul (lutut). Hari ini adalah tanggal 13 november, angka keramat, angka misterserius yang ditakuti banyak anak kecil, tepat sehari sebelum hari ulang tahun Gea si pemanjat Elittt (pemanjat paling ujung).


Jam 16.25 seorang senior (Wadanyon, sen Angga) dan dosen lewat dihadapan kami, sesuai budaya turun menurun bangsa kami, kami pun menyapa serempak “Selamat sore sen, selamat sore Pak”, Beliau kaget “loh.. pada ngapain?”. Sambil nunjuk si pemanjat elit, kami menawarkan buah mangga yang ranum. Kami ga tau isi pikiran si senior, dengan ramah dan akrabnya kami mengobrol tanpa tahu yang kami lakukan adalah salah. Sen Angga membawa sekitar dua biji mangga, fikir kami “ah gak mungkin lah besok dihukum orang sen Angga juga ikut makan mangganya”. Kami dibuat khawatir semalaman, bukan masalah maakan mangganya tetapi cara mengambil yang menurut ku tidak layak.


14 november datang, pagi sewaktu apel pagi semua berjalan tanpa hambatan. Kamipun bisa bernafas lega, semua seolah tidak ada kejadian mengerikan yang terjadi. Bel sekolah berbunyi menandakan hari sudah siang dan saatnya pulang. Siang itu yang menjadi komandan apel adalah sen Angga, seperti biasa kami push – up saat apel siang. Masih belum timbul firasat aneh di otak kami ber-tujuh. Seusai apel siang, tingkat satu (angkatanku) diperintah untuk tetap tingggal di lapangan. Aku mulai berbisik dengan purwati “ah ini sepertinya si Gea mau dikerjain deh kan dia ulang tahun”, kata – kataku terkesan PeDe. Kami ber –enam siang itu sama sekali tidak takut, khawatir atau curiga fikiran kami ya sama, kami dibariskan karena si Gea ulang tahun. Sebenarnya kalau difikir ulang ini siapa yang oon ya??.


“siapa yang kemarin sore memanjat pohon?”, teriak sen Angga lantang dan jelas.

“siap saya”, Gea berseru dan dia maju ke barisan depan.

Masih dengan senyum yang tak bermakna kami masih terlihat polos, dan tetap berfikir “ah ini Cuma trik”. Sen Angga melanjutkan dengan jelas sejelas – jelasnya “yakin Cuma itu?”. Kami ber –enam maju kedepan, semenjak detik itulah kami merasa malu “aduh dihukum kok cuma gara – gara mangga!!”. Hukuman dimulai, kami mendapat nasihat panjang lebar oleh mbak haryanti, poltir kami. Kalau saja ada kesempatan buat lari mungkin kami ber –t ujuh lebih baik pura – pura pingsan, malu banget. Ditengah – tengah menjalani hukuman, dwi berkata “nduk ini sepertinya bukan ngerjain deh, ini bener – bener hukuman”. Aku mengangguk meng – iyakan, itu artinya kami ber – tujuh kelewat PD. Selain push – up, lari kami juga mendapat hukuman membuat kliping tentang budaya, olahraga. Hahh melelahkan memang kaki serasa mau copot, badan rasanya terbakar tetapi semua itu tak kami rasakan karena kami jalani bersama – sam. Dikelas kami ber – tujuh meminta maaf sama teman – teman karena merasa tidak enak, temen – temen ada yang ketawa, menasehati kami, geleng – geleng gak jelas duh malunya. Tugas pembuatan kliping telah dibagi oleh Danton, dan diberi waktu tiga hari untuk dikumpulkan, dengan sisa – sisa tenaga kami, kami pergi meninggalkan kelas dan pulang. Setibanya dikost kami malah tertawa riuh dan masih saja tidak menyangka “itu tadi kita dihukum apa dikerjain ya??”




Tidak ada komentar:

Posting Komentar