FRIENDSHIP
Kejadian
ini bermula pada hobby yang terpendam antar jenis kami. Pada tahun ini, dibulan
november dimana buah mangga mulai berjaya saling memamerkan keunggulannya, hal
tersebut membuat kami tertarik untuk mencoba memanen sendiri. Entah nasib apes
ato keberuntungan yang meleset, pohon mangga di samping rumah Ibu kost berbuah
banyak sekali pada tahun ini. Sepulang dari sekolah, kami ber-tujuh (Seven Ikans) makan bersama tapi bayar
sendiri-sendiri. Selasa sore ini kebetulan tidak ada jadwal olahraga dan
ekstrakulikuler, akhirnya kami sepakat untuk tetap stay di kost sambil
nge-“GOSIP”. Lima ekor berkumpul di ruang tengah, aku duduk di kursi bak permaisuri
, satu ekor di tangga, dua ekor berceceran di lantai. Entah apa yang kami bahas
sampai mulut berbusa, “ngalor-ngidul” (gak jelas), setelah sekian lama
ngeluarin busa, kami baru sadar ada dua makhluk tak hadir dalam konferensi
ini.. ahhaaa !! ah biasa, dia pasti lagi mengembara nyari asal mula terjadinya
danau toba, ato mungkin lagi nyari tau kembaran yang terpisah.. EGP
Ditengah
obrolan yang tak bertopik ini kami dikejutkan oleh teriakan Tini, “Eh pelem ki
ono pelem” grubyuuukkk, langsung bergerombol sambil saling melototin tuh pelem
(mangga) yang ranum. Apa?? Ranum?? Masih ijo iyaaa.. mangga habis dan kami
masih kelaperan, mengeong..meong meong lalu kami nyamperin Ibu kost, “Ibu,
minta mangga boleh ya?”, kata Dwi
“Yahh
sana, ambil saja (logat batak)”
“Bu, tapi
kalo ketauan senior gimana?? Nanti dihukum”
“Pake itu
saja (sambil nunjuk bambu panjang), ato suruh ngambilin seniormu tuh ada di
depan kost”
Tikitikitikitikitik..
kami mengahmpiri mas Anam, “mas, jipukake pelem lah, lutunggg lutungg
lutungg tuluuuunggggggg”
Dengan Pe
De nya mas anam menyuruh kami “wes, munggah wae (manjat) rak opo-opo, tak awasi
nek kene”
Lalu kami
bagi personil, dua orang manjat, dua orang mengawasi dari bawah, sisanya yang
mengumpulkan mangga yang dijatuhkan. Asiiikk sekali rasanya, sudah lama tidak memanjat
pohon, tetapi tugas ku bukan manjat, aku cuma mengawasi dan menghitung jumlah
mangga yang dipanen..takut diambil!! Tugas manjat diserah terimakan sama cewek
(dari luar) tapi dalamnya masih diragukan. Dia bisa banget manjat sampai ujung
pohon, di bawahnya ada sikecil heni yang gak kalah gak pentingnya, si heni ini
manjat buat ngapain coba? Ngambil mangga engga, makan daun juga engga, ya udah
dia nangkring aja gitu, tangan garuk-garuk ke dengkul (lutut). Hari ini adalah
tanggal 13 november, angka keramat, angka misterserius yang ditakuti banyak
anak kecil, tepat sehari sebelum hari ulang tahun Gea si pemanjat Elittt
(pemanjat paling ujung).
Jam 16.25
seorang senior (Wadanyon, sen Angga) dan dosen lewat dihadapan kami, sesuai
budaya turun menurun bangsa kami, kami pun menyapa serempak “Selamat sore sen,
selamat sore Pak”, Beliau kaget “loh.. pada ngapain?”. Sambil nunjuk si
pemanjat elit, kami menawarkan buah mangga yang ranum. Kami ga tau isi pikiran
si senior, dengan ramah dan akrabnya kami mengobrol tanpa tahu yang kami
lakukan adalah salah. Sen Angga membawa sekitar dua biji mangga, fikir
kami “ah gak mungkin lah besok dihukum orang sen Angga juga ikut makan
mangganya”. Kami dibuat khawatir semalaman, bukan masalah maakan mangganya
tetapi cara mengambil yang menurut ku tidak layak.
14
november datang, pagi sewaktu apel pagi semua berjalan tanpa hambatan. Kamipun bisa
bernafas lega, semua seolah tidak ada kejadian mengerikan yang terjadi. Bel sekolah
berbunyi menandakan hari sudah siang dan saatnya pulang. Siang itu yang menjadi
komandan apel adalah sen Angga, seperti biasa kami push – up saat apel siang. Masih
belum timbul firasat aneh di otak kami ber-tujuh. Seusai apel siang, tingkat
satu (angkatanku) diperintah untuk tetap tingggal di lapangan. Aku mulai
berbisik dengan purwati “ah ini sepertinya si Gea mau dikerjain deh kan dia
ulang tahun”, kata – kataku terkesan PeDe. Kami ber –enam siang itu sama sekali
tidak takut, khawatir atau curiga fikiran kami ya sama, kami dibariskan karena
si Gea ulang tahun. Sebenarnya kalau difikir ulang ini siapa yang oon ya??.
“siapa
yang kemarin sore memanjat pohon?”, teriak sen Angga lantang dan jelas.
“siap
saya”, Gea berseru dan dia maju ke barisan depan.
Masih dengan
senyum yang tak bermakna kami masih terlihat polos, dan tetap berfikir “ah ini Cuma trik”. Sen Angga
melanjutkan dengan jelas sejelas – jelasnya “yakin
Cuma itu?”. Kami ber –enam maju kedepan, semenjak detik itulah kami merasa
malu “aduh dihukum kok cuma gara – gara mangga!!”.
Hukuman dimulai, kami mendapat nasihat panjang lebar oleh mbak haryanti, poltir
kami. Kalau saja ada kesempatan buat lari mungkin kami ber –t ujuh lebih baik
pura – pura pingsan, malu banget. Ditengah – tengah menjalani hukuman, dwi
berkata “nduk ini sepertinya bukan
ngerjain deh, ini bener – bener hukuman”. Aku mengangguk meng – iyakan, itu
artinya kami ber – tujuh kelewat PD. Selain push – up, lari kami juga mendapat
hukuman membuat kliping tentang budaya, olahraga. Hahh melelahkan memang kaki
serasa mau copot, badan rasanya terbakar tetapi semua itu tak kami rasakan
karena kami jalani bersama – sam. Dikelas kami ber – tujuh meminta maaf sama
teman – teman karena merasa tidak enak, temen – temen ada yang ketawa,
menasehati kami, geleng – geleng gak jelas duh malunya. Tugas pembuatan kliping
telah dibagi oleh Danton, dan diberi waktu tiga hari untuk dikumpulkan, dengan
sisa – sisa tenaga kami, kami pergi meninggalkan kelas dan pulang. Setibanya
dikost kami malah tertawa riuh dan masih saja tidak menyangka “itu tadi kita dihukum apa dikerjain ya??”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar