To My Dearest
Terakhir
yang aku ingat sewaktu kita masih makan bareng, jalan bareng dan nonton berdua.
Semua itu masih terlintas dengan jelas, seandainya kamu tahu aku tak pernah
ingin seperti ini. Kamu membuatku lupa tentang masalalu pahit, kamu yang
membuatku berfikir untuk merubah sikap sebijak mungkin. Aku tahu, dewasa bukan
masalah usia, melainkan belajar bersabar, dan itu aku pelajari saat aku bertemu
kamu.
Kamu
mulai berubah akhir – akhir ini, sebenarnya kenapa?? Kamu mulai jarang memberi
perhatian dengan alasan banyak pekerjaan yang harus selesai sebelum deadline ahh..yasudah mungkin memang
kamu sibuk. Kamu tahu sayang?? Aku rindu.. mungkin itu secuil kata yang
terlintas setiap waktu untukmu.
Aku
mulai mengenalnya, masa lalu mu dan tentunya masalah baru buatku. Aku membiasakan
diri untuk berkata “Tidak Mungkin”, karena aku selalu percaya bahwa kamu masih
ingin aku yang berada disampingmu. Kecurigaanku bertambah ketika melihat cerita
ganjal diantara kita. Apa yang salah? Aku mencoba mengkoreksi diri. Apa yang
aku lewatkan?? Tidak satupun kutemukan jawaban yang ku pertanyaan.
Sayang,
kamu tahu.. aku mulai menyiapkan hati bila sewaktu – waktu aku menerima jawaban
yang sangat mungkin terjadi, kamu dimana? Aku tak pernah tahu. Diam adalah
caraku bertanya pada diri sendiri, karena rasa ingin tahu yang besar, aku
selalu membiarkan air mata ini menetes berharap Tuhan menjawab semua
kecemasanku. Aku kuat sayang.. walaupun kadang aku masih butuh sandaran. Ahh..
kamu membuatku tak berdaya.
Tiga
hari berlalu semenjak kejadian itu, aku mulai bisa menerima bahwa kamu memang
berubah. Sayang.. kadang aku sering tidak sadar menulis pesan untukmu, kadang
masih terasa ganjal bahwa kita sekedar teman biasa. Bukan tentang kehilangan,
aku lebih siap nyatanya. Kamu tetaplah kamu, sama seperti saat kita belum
kenal, sedang kenal dan sedang sudah menjauh. Terima kasih sayang,, aku tak
pernah menyesal mengenalku, karena kamu aku tau rasanya bersabar dan kuat. Terima
kasih
at 13.50
sep, 20-2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar