Hargailah dia yang mencintaimu..
Ia berkorban bukan karena berharap kasihmu.. Melainkan ingin menunjukkan kau berarti untuknya..

Pengikut

Selamat Datang di Blog Asrey Fatmalasari Putri

Sabtu, 15 Juni 2013

Jangan Pernah Terlambat


 mungkin bukan sekarang dan bukan denganku, melainkan tangan - tangan lain diluar sana





Diary, selasa 11 juni 2013

Siapa yang sangka kehidupan kita sewaktu waktu dapat berubah. Entah beberapa detik kedepan itu tidak pasti. Seperti biasa hari ini aku menjalankan tugas di salah satu puskesmas dikota Semarang. Pukul 09.00 pagi aku sama rekan kerja Anggita berangkat ke tempat resos (re sosialisasi). Cuaca mendung begitu juga dengan hati, pikiran dan otakku. “aku males mo ngapa2in”, anggita berseru di dalam perjalanan kami. “sama nggit”, balasku.

Setibanya disana kami berdua melakukan penataan dokumen  pasien di CM berbeda – beda sesuai gang, dan nama wisma. Yang berbeda kali ini adalah pasien yang kami temui.  Bukan pasien seperti kebanyakan yang ada di rumah sakit dengan diagnosa TB (tuberculosis), DB (demam berdarah), febris (demam), DM (diabetes mellitus), dLL melainkan adalah wanita penjual jasa. Perlahan mulai datang satu persatu dengan seragam hitam putihnya. Di gedung ini setiap hari senin – rabu selalu diadakan sekolah istilahnya, sebenarnya lebih ke arah pemberian penyuluhan dan pendidikan kesehatan, tentang management dan ini khusus dengan harapan mereka tidak selamanya bekerja sebagai wanita penjual jasa.

Tidak lama kemudian hujan gerimis mulai nampak dibalik jendela tempat aku berdiri, tetesannya yang beramai seolah mengisyaratkan ada yang sedang berkabung diluar sana (sambil nunjuk diri sendiri). Setengah jam menanti akhirnya tercium juga kedatangan mbak Linda petugas puskesmas  dari arah tangga. Seperti biasanya juga aku masuk ke ruang skrining (tempat pengambilan cairan vagina) dan Anggita berada diluar bersama mbak Linda. Tidak begitu banyak pasien hari ini sekitar 40an yang datang bisa jadi karena cuaca yang kurang mendukung sehingga mereka malas untuk keluar wisma.

Mbak Restu datang, mbak Vita analys juga, mulailah aku beraksi memanggil satu persatu pasien untuk diskrining. Setelah beberapa tumpukan daftar hadir pada satu nama aku bertanya (“kenapa namanya terlihat seperti orang desa?”) padahal aku sadar aku sendiri juga orang desa, namun kebanyakan dari mereka adalah merubah nama asli mereka menjadi nama panggilan. Dengan ragu dan pelan “Mbak Siti”, kepalaku ikut mencari seolah – olah memiliki radar GPS dengan jarak 100 m, datanglah wanita hampir separuh abad usianya dari arah belakang “ya saya mbak”. Sederhana, beliau memakai kemeja hitam, dan rok hitam panjang.

#didalam ruang skrining

Pintu kututup, aku berdiri dibelakangnya kuperhatikan beliau tampak kebingungan. Spontan mbak restu bertanya “baru pertama kali skrining ya?”, beliau mengangguk mengiyakan. Aku menyuruh mbak Siti melepas semua celana, dan menyuruh nya tiduran dengan posisi litotomi (posisi orang melahirkan). Yah begitulah petugas kesehatan selalu ada saja komunikasi yang dibangun.

masih baru ya?”, mbak Restu mengawali percakapan.

iya bu

sudah berapa lama disini?”, (masih asyik memasukkan spekulum.)

baru sekitar 5 hari bu

loh lha asalnya dari mana?”

dari *** saya terpaksa kok bu kerja begini

Aku yang tadinya berada dibelakang, langsung merapat disebelah mbak Siti agar lebih jelas mendengarkan percakapan mereka.

Mbak Restu melanjutkan “trus tau tempat ini dari siapa?

saya diajak teman, saya kan orangnya tidak pernah ke semarang

sudah punya anak ?

sudah, masih kecil – kecil

kenapa mau kerja seperti ini?” pertanyaan mbak Restu seperti petir bagi mbak Siti, “mbok mending jadi rewang aja to mbak, apa gak kasian sama anaknya? Orang tua tahu kalo kerja kayak gini?”, lanjut mbak Restu.

(meledaklah air mata mbak Siti)

engga mbak, saya juga tidak mau bekerja seperti ini, saya begini karena disakiti sama suami saya, anak sudah saya titipkan neneknya, saya juga gak tega ngasih anak saya uang hasil begini

Ya Allah, aku merinding mendengar jawaban mbak Siti, aku lalu teringat ibuku yang dirumah. Hatiku sakit seperti dicubit kecil oleh Tuhan. Mbak Siti yang kulihat dalam daftarnya berusia sekitar 40an sama seperti ibuku. Wajahnya begitu polos, kuperhatikan gerak gerik tangannya seperti gelagapan memakai celana. “mbak tolong ya carikan saya pekerjaan, bantu saya keluar dari sini, saya mau mbak kerja dipabrik atau apa saja”. Itu kalimat terakhir beliau yang kudengar sebelum beliau keluar. Rasanya ingin sekali kutarik dia dan kuajak pergi untuk kucarikan pekerjaan yang lebih layak. Tetapi karena posisinya aku sedang ada kerjaan jadi niat tersebut berubah, aku ingin menghubunginya setelah ini pikirku demikian. Aku berniat membantunya mencari pekerjaan, karena aku punya banyak teman di Semarang aku rasa tidak begitu sulit dan aku sempat berfikir ingin aku share di group IIDN (komunitas FB) aku percaya banyak yang mau membantu. Bergegas aku mengambil note kecilku ditas, kutulis no hpku tanpa nama, rencanaku inginku selipkan kertas tersebut ditangannya dan berbisik “hubungi saya ya mbak”.

Ternyata itu hanyalah harapan yang sekedar jadi harapan, aku keluar mengantarkan sample ke lab tempat mbak Vita melaksanakan tugasnya kulihat beliau masih duduk bersandarkan tembok sambil melingkarkan kedua lengannya ke lutut. Diam, terlihat tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Bodohnya aku saat itu adalah aku bertanya sama mbak Restu, bagaimana caranya membantu ibu tersebut “wes dek, kamu kasih aja no hp mu dan bilang, buk kalo butuh kerjaan hubungi saya di no ini”. Sewaktu aku bertanya keadaannya didalam ruang skrining sedang ada pasien, jadi aku harus menunggu sampai proses selesai rasanya sudah sangat tidak sabar. Seusai pasien memakai celana aku langsung keluar dan melihat arah tempat mbak Siti duduk tadi, namun... disana tidaklah kulihat batang hidungnya. Aku masuk ke ruang pengobatan, aahh siapa tahu dia sedang bersama dokter, namun tetap tidak ada. Aku melihat ke bawah tangga, tetap nihil. Tuhan.... badanku lemas dibuatnya, aku gagal, aku gagal, aku gagal. Maaf Tuhan, belum rejeki ku untuk membantu orang. Sampai sekarang aku menyesal bila mengingat hari itu, rasanya bodoh sekali, kenapa harus mondar mandir tanpa tujuan???? Aaarrrrggghhhhhhhh aku tidak suka dengan diriku yang ragu – ragu. Kembali lagi ku ingat bukan dengan aku dia harus di tolong, semoga ada tangan – tangan yang mulia diluar sana yang sudi menolongnya. Terima kasih Tuhan, aku tidak akan mengulanginya lagi. Ya Allah maaf..




Tidak ada komentar:

Posting Komentar