mungkin bukan sekarang dan bukan denganku, melainkan tangan - tangan lain diluar sana
Diary, selasa 11 juni 2013
Siapa
yang sangka kehidupan kita sewaktu waktu dapat berubah. Entah beberapa detik
kedepan itu tidak pasti. Seperti biasa hari ini aku menjalankan tugas di salah
satu puskesmas dikota Semarang. Pukul 09.00 pagi aku sama rekan kerja Anggita
berangkat ke tempat resos (re sosialisasi). Cuaca mendung begitu juga dengan
hati, pikiran dan otakku. “aku males mo ngapa2in”, anggita berseru di dalam
perjalanan kami. “sama nggit”, balasku.
Setibanya
disana kami berdua melakukan penataan dokumen
pasien di CM berbeda – beda sesuai gang, dan nama wisma. Yang berbeda
kali ini adalah pasien yang kami temui.
Bukan pasien seperti kebanyakan yang ada di rumah sakit dengan diagnosa
TB (tuberculosis), DB (demam berdarah), febris (demam), DM (diabetes mellitus),
dLL melainkan adalah wanita penjual jasa. Perlahan mulai datang satu persatu
dengan seragam hitam putihnya. Di gedung ini setiap hari senin – rabu selalu
diadakan sekolah istilahnya, sebenarnya lebih ke arah pemberian penyuluhan dan
pendidikan kesehatan, tentang management dan ini khusus dengan harapan mereka
tidak selamanya bekerja sebagai wanita penjual jasa.
Tidak
lama kemudian hujan gerimis mulai nampak dibalik jendela tempat aku berdiri,
tetesannya yang beramai seolah mengisyaratkan ada yang sedang berkabung diluar
sana (sambil nunjuk diri sendiri). Setengah jam menanti akhirnya tercium juga
kedatangan mbak Linda petugas puskesmas
dari arah tangga. Seperti biasanya juga aku masuk ke ruang skrining
(tempat pengambilan cairan vagina) dan Anggita berada diluar bersama mbak
Linda. Tidak begitu banyak pasien hari ini sekitar 40an yang datang bisa jadi
karena cuaca yang kurang mendukung sehingga mereka malas untuk keluar wisma.
Mbak
Restu datang, mbak Vita analys juga, mulailah aku beraksi memanggil satu
persatu pasien untuk diskrining. Setelah beberapa tumpukan daftar hadir pada
satu nama aku bertanya (“kenapa namanya terlihat seperti orang desa?”) padahal
aku sadar aku sendiri juga orang desa, namun kebanyakan dari mereka adalah
merubah nama asli mereka menjadi nama panggilan. Dengan ragu dan pelan “Mbak
Siti”, kepalaku ikut mencari seolah – olah memiliki radar GPS dengan jarak 100 m,
datanglah wanita hampir separuh abad usianya dari arah belakang “ya saya mbak”.
Sederhana, beliau memakai kemeja hitam, dan rok hitam panjang.
#didalam ruang skrining
Pintu
kututup, aku berdiri dibelakangnya kuperhatikan beliau tampak kebingungan.
Spontan mbak restu bertanya “baru pertama kali skrining ya?”, beliau mengangguk
mengiyakan. Aku menyuruh mbak Siti melepas semua celana, dan menyuruh nya
tiduran dengan posisi litotomi (posisi orang melahirkan). Yah begitulah petugas
kesehatan selalu ada saja komunikasi yang dibangun.
“masih baru ya?”, mbak Restu mengawali percakapan.
“iya bu”
“sudah berapa lama disini?”, (masih asyik memasukkan spekulum.)
“baru sekitar 5 hari bu”
“ loh lha asalnya dari mana?”
“dari *** saya terpaksa kok bu kerja begini”
Aku yang
tadinya berada dibelakang, langsung merapat disebelah mbak Siti agar lebih
jelas mendengarkan percakapan mereka.
Mbak Restu melanjutkan “trus tau tempat ini dari siapa?”
“saya diajak teman, saya kan orangnya tidak pernah ke semarang”
“sudah punya anak ?”
“sudah, masih kecil – kecil”
“kenapa mau kerja seperti ini?” pertanyaan mbak Restu seperti petir bagi
mbak Siti, “mbok mending jadi rewang aja to mbak, apa gak kasian sama anaknya?
Orang tua tahu kalo kerja kayak gini?”, lanjut mbak Restu.
(meledaklah air mata mbak Siti)
“engga mbak, saya juga tidak mau bekerja seperti ini, saya begini karena
disakiti sama suami saya, anak sudah saya titipkan neneknya, saya juga gak tega
ngasih anak saya uang hasil begini”
Ya
Allah, aku merinding mendengar jawaban mbak Siti, aku lalu teringat ibuku yang
dirumah. Hatiku sakit seperti dicubit kecil oleh Tuhan. Mbak Siti yang kulihat
dalam daftarnya berusia sekitar 40an sama seperti ibuku. Wajahnya begitu polos,
kuperhatikan gerak gerik tangannya seperti gelagapan memakai celana. “mbak tolong ya carikan saya pekerjaan, bantu
saya keluar dari sini, saya mau mbak kerja dipabrik atau apa saja”. Itu
kalimat terakhir beliau yang kudengar sebelum beliau keluar. Rasanya ingin
sekali kutarik dia dan kuajak pergi untuk kucarikan pekerjaan yang lebih layak.
Tetapi karena posisinya aku sedang ada kerjaan jadi niat tersebut berubah, aku
ingin menghubunginya setelah ini pikirku demikian. Aku berniat membantunya
mencari pekerjaan, karena aku punya banyak teman di Semarang aku rasa tidak
begitu sulit dan aku sempat berfikir ingin aku share di group IIDN (komunitas
FB) aku percaya banyak yang mau membantu. Bergegas aku mengambil note kecilku
ditas, kutulis no hpku tanpa nama, rencanaku inginku selipkan kertas tersebut
ditangannya dan berbisik “hubungi saya ya
mbak”.
Ternyata
itu hanyalah harapan yang sekedar jadi harapan, aku keluar mengantarkan sample
ke lab tempat mbak Vita melaksanakan tugasnya kulihat beliau masih duduk
bersandarkan tembok sambil melingkarkan kedua lengannya ke lutut. Diam,
terlihat tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Bodohnya aku saat
itu adalah aku bertanya sama mbak Restu, bagaimana caranya membantu ibu
tersebut “wes dek, kamu kasih aja no hp mu dan bilang, buk kalo butuh kerjaan
hubungi saya di no ini”. Sewaktu aku bertanya keadaannya didalam ruang skrining
sedang ada pasien, jadi aku harus menunggu sampai proses selesai rasanya sudah
sangat tidak sabar. Seusai pasien memakai celana aku langsung keluar dan
melihat arah tempat mbak Siti duduk tadi, namun... disana tidaklah kulihat batang
hidungnya. Aku masuk ke ruang pengobatan, aahh siapa tahu dia sedang bersama
dokter, namun tetap tidak ada. Aku melihat ke bawah tangga, tetap nihil.
Tuhan.... badanku lemas dibuatnya, aku gagal, aku gagal, aku gagal. Maaf Tuhan,
belum rejeki ku untuk membantu orang. Sampai sekarang aku menyesal bila
mengingat hari itu, rasanya bodoh sekali, kenapa harus mondar mandir tanpa
tujuan???? Aaarrrrggghhhhhhhh aku tidak suka dengan diriku yang ragu – ragu.
Kembali lagi ku ingat bukan dengan aku dia harus di tolong, semoga ada tangan –
tangan yang mulia diluar sana yang sudi menolongnya. Terima kasih Tuhan, aku
tidak akan mengulanginya lagi. Ya Allah maaf..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar