"Cinta itu tak pernah salah, yang salah adalah ketika kita mengkhianati cinta"
Dua hari berlalu, aku masih enggan beranjak dari kamar dan bertemu orang sekitar. Aku takut menghadapi kenyataan bahwa aku kini telah berstatus Single. Yah.. mau berkata apa lagi, semua tak seperti dulu. Rencana nya sore ini Aji akan mengajakku pergi jalan-jalan, walaupun hanya sekedar nonton di 21, karena Aji khawatir kondisi psikologiku semakin memburuk. Aji Nugroho (26), sepupu dari Angga (Anggaryanta Wibowo Putra, 27), mantan calon tunanganku yang dua hari lalu memutuskan tali itu tanpa alasan yang jelas.
#Sabtu, 28 mei 2005
Pagi ini semua terasa berbeda, mulai dari kebiasaan bangun tidurku yang selalu dibangunkan oleh Angga via telepon, bom sms, atau melalui tukang pos. Namun tidak untuk hari ini, aku bangun karena goyangan tubuhku yang disentuh oleh Indah teman serumahku. Ya.. selain aku dan mbak tari (pembantu rumah) masih ada Indah Ayu Lestari (24) yang menemaniku menempati rumah seluas 600
-->m2 dengan dua lantai.
"Bangun, udah siang Put"(eghhhhmmmm)
"Sekarang hari sabtu ya Ndah?" (menatap Indah)
"Iya kan, kamu libur kerja. Ayo kita cari kado buat camer (calon mertua)" ajak Indah (menarik tanganku)
KADO.. Sebuah kata yang aku Bold, Italic di otakku. Sebuah benda yang udah aku rencanakan dan akan menjadi temanku dalam acara malam ini. Hari ini, tepat 65 tahun kelahiran Ayah Angga. Aku dan Indah diundang secara pribadi oleh orang tua Angga untuk menghadiri pesta tersebut. Yah,,sekalian syukuran karena Ayah Angga atau biasa di panggil Pak Rey atau Reandra Wibowo Putra telah sembuh dari sakit GGK (Gagal Ginjal Kronik) yang sejak 2 tahun lamanya menemani Pak Rey sampai akhirnya ada seorang baik hati yang mau menjadi pendonor ginjal sukarelawan. Sukarelawan??? (benarkah)
Menuju mall di sekitar kota, mencari, mencari dan memilih,, Yuppzz.. ku temukan juga kado yang sesuai untuk beliau. Setelah memilih camera digital "canon" dan membungkusnya, aku dan Indah lunch di RM yang terletak di pertigaan jalan. Waktu menunjukkan pukul 13.27, saatnya untuk mengunjungi klinik. Klinik gigi yang aku dirikan bersama dua orang temanku 7 tahun lalu, ternyata tidak sepi pengunjung. Aku kesana bukan tanpa tujuan melainkan ingin memberitahukan bahwa hari itu klinik, aku suruh tutup lebih awal.
Terasa sebentar untuk menunggu waktu berjalan ke arah dan berhenti di angka 5, ahaa... itu artinya sejam lagi Angga akan menjemputku. :) #dandan dandannnn
kling-kling, handphone ku berdering (1 new message)
# 082366446*** (Aji)
"sudah siap?? buruan.. aku di depan rumah"
Whatttttttt???
Aji? kemana Angga? sakitkah? lupakah? "ahhh.. gak mungkin"
# 18.16
Ku lihat Aji berdiri di samping mobilnya (melambaikan tangan) "ayo,, acara keburu di mulai"
"emm ntar aku pulang bareng siapa donk?" (heran) tanyaku
"Nanti aku anter Put, oh iya Indah?? gak bareng sekalian?"
"Ntar dia nyusul"
Hening,
sepanjang perjalanan menuju rumah Angga, perasaanku semakin tak karuan, bahkan aku tak berani menanyakan mengapa bukan Angga yang jemput? kenapa Angga tak ada kabar seharian ini? aaaaarrrrrggggggghhhhhhhhhhhhh.... pertanyaan itu terus berputar putar di fikiranku. STOP THINKING!!!
#Rumah Angga
Ku lihat Angga berdiri di hadapanku dan menyambut dengan senyumnya yang selalu ku rindukan.
"Ngga.. Are you okay??"
"yes baby, of course" (senyum) "Aku minta maaf sebelumnya"
"Why? What's wrong with you?"
"Nothing"
Terlihat sekilas dari kejauhan seorang wanita yang tak asing untukku. Hmmmm,,, (mencoba mengingat)
Fira?? Adek kelas sewaktu SMA?? Dia ada hubungan apa dengan om Rey? teman ayahnya kah? partner kerja kah? atau teman Angga juga?
#20.00
Acara potong kue akan segera dimulai karena tamu-tamu Om Rey mulai banyak yang berdatangan. Sebelum acara itu dimulai, Aji berdiri di sebelahku (senyum)
"bagaimana?", sapa Aji."(mengerutkan dahi) apanya?"
Om Rey dan Tante Anita (Anita Sari, 56) berdiri di ujung kolam dengan hiasan lilinnya, memancarkan cahaya lembayung agak orange. Tatapan itu, hampir selalu ku ingat, Om Rey, dengan ragu dan terlihat dengan paksaan tampaknya akan mengumumkan hal terpenting di hidupnya. Tante Anita dengan gaun silvernya tanpa belahan di bagian tubuhnya terlihat anggun dengan tambahan acsesoris bling-bling.
MC pun memulai membuka acara malam ini, dan dilanjut oleh Om Rey
"Selamat malam teman-teman, saudara semuanya. Terima kasih telah menyempatkan waktunya untuk menghadiri pesta ulang tahun saya, pada kesempatan kali ini saya selaku Ayah biologis dari Angga, akan menyampaikan hal terpenting dalam hidupnya. Malam ini selain pesta ulang tahun, akan ada tukar cincin antara Angga dan calon istrinya." (menatapku)
(meraih tangan Aji) "maksudnya apa ya Om Rey?"
"Aku juga gak ngerti Put, "
Dadaku mulai terasa sesak, takhikardi, hipoksia telah menyerangku, semua terasa berputar, keringat dingin mulai membasahi punggungku, tremor, sepertinya aku terkena serangan sirosis hepatis akut. Ku dengar jelas tanpa perantara "Ini saya perkenalkan calon tunangan anak saya Angga (sembari menarik tangan Fira)"
selangkah, dua langkah, aku bergerak mundur, Aji mencoba meraih tanganku, lututku dibuat lemas seketika, Fira..Fira..Fira.. ada apa ini!!!!!!
"Put, mau kemana? (Teriak Aji)"
(menoleh tanpa menghiraukan) brakkk, (menutup pintu taksi)
#20.30
Acara tukar cicncin pun dimulai, Om Deni (Deni Setya Aji, 59) dengan bangga nya tersenyum lebar melihat kerapuhanku malam itu. Beliau dan Anaknya adalah pesaing bisnisku dalam mendirikan klinik 7 tahun lalu. Karena semua pelanggan nya telah berpindah alih kepadaku. Itulah persaingan bisnis, pembeli adalah raja, mereka yang memiliki uang dan mereka yang memiliki hak tertinggi.
Handphone ku berhujankan telepon dan sms dari Aji. Aku terus menatap lurus kedepan sesekali mengusap air mata yang menetes. Aku hampir tidak mampu berfikir secara logis, rasanya ingin ku akhiri hidup dan membuatnya menjadi lebih singkat. "mbak kita mau kemana?", tanya sopir taksi. Lalu kutuliskan alamat dinote ku dan kuserahkan padanya. Aku berlalu dengan sisa kekuatanku, berharap hari ini lekas berakhir dan tak akan kuingat.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar